Sabtu, 09 November 2019

(24) QS An-Nur


QS An-Nur, 24: 27
Diriwayatkan dari Ibnu Jarir dari Al ‘Adi bin Tsabit, dia berkata, “ Seorang wanita ansar datag dan berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, aku sedang berada di rumah dan dalam keadaan tidak ingin seorang pun melihatku. Akan tetapi, ada seorang laki-laki dari keluargaku yang terus-menerus meminta untuk menemuiku, sedangkan aku tidak ingin ditemui dalam keadaan seperti itu. Apakah yang harus aku perbuat?’ Kemudian, turunlah ayat ini.” (Lubabun Nuqul: 143)

QS An-Nur, 24: 29
Diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim dari Muqatil bin Hibban bahwa ketika Rasulullah memerintahkan untuk memasuki rumah orang lain dengan izin terlebih dahulu, Abu Bakar bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan para pedagang Quraisy yang biasa pulang-pergi antara Mekah, Madinah, dan Syam? Tempat mereka biasa singgah dalam perjalanan, sedangkan tempat itu tidak ada penghuninya?” Lalu, turunlah ayat ini. (Lubabun Nuqul: 143 – 144)

QS An-Nur, 24: 36 – 38
Diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir, dari Abdullah bin Umar, kaum muslimin banyak sibuk berdagang di pasar. Namun, ketika mereka mendengar azan,  mereka segera mendirikan shalat ke masjid. Maka dari itu, turunlah ayat-ayat ini sebagai pujian atas sikap mereka di samping Allah menjanjikan rezeki yang banyak bagi mereka. ­(Asbabun Nuzul, Studi Pendalaman Al-Qur’an: 623)

QS An-Nur, 24: 55
Imam Al Hakim meriwayatkan sebuah hadits dan disahihkan oleh Imam Ath Thabrani, dari Ubay bin Ka’ab, dia berkata, “Tatkala Rasulullah saw. dan para sahabat sampai di Madinah, beliau dan para sahabat selalu terancam oleh orang Arab yang ada di Madinah sehingga mereka tidak pernah melepaskan senjata mereka pada siang dan malam hari. Mereka berkata kepada beliau, ‘Kapankah Anda dapat melihat kami hidup aman dan tentram, tidak takut terkecuali hanya kepada Allah?’ Kemudian, Allah menurunkan ayat ini.”
Ibnu Abi Hatim Juga meriwayatkan dari Al Bara, dia berkata, “Ayat ini turun tentang kamim sedang saat itu kami tengah berada dalam ketakutan yang sangat.” (Lubabun Nuqul: 145)

QS An-Nur, 24: 61
Al-Bazzar meriwayatkan dengan sanda yang sahih dari Aisyah, dia berkata, “Ketika itu, kaum muslimin yang hendak pergi berjihad bersama Rasulullah saw. menitipkan kunci rumah kepada orang yang buta, cacat, dan yang sedang sakit. Kemudian, orang-orang yang memegang kunci itu merasa tidak halal jika memakan apa yang ada di rumah itu karena para pemilik rumah tidak ikhlas membolehkan memakan apa yang ada dalam rumah. Maka dari itu, turunlah ayat ini.” (Lubabun Nuqul: 146)

QS An-Nur, 24: 63
Diriwayatkan dari Dhahak, dari Ibnu Abbas bahwa para sahabat terbiasa memanggil Rasulullah dengan, “Wahai Muhammad! Wahai Abu Al Qasim!” Lalu, turunlah ayat ini yang mengingatkan para sahabatnya untuk memanggil Rasulullah, dengan sebutan yang ditentukan. Hal ini untuk membedakan antara Rasulullah dan kebiasaan orang Arab lainnya yang memanggil seseorang dengan nama anaknya, yaitu “Wahai Nabi Allah!” atau “Wahai Rasulullah!” (Lubabun Nuqul: 147)

Sembarang